Belanda Mau Tangkap Jenderal Sudirman

Pada hari minggu 19 Desember 1948, pagi-pagi sekali rumah saya di Pegangsaan Barat No.6 Paviliun Jakarta diketuk oleh inspektur polisi NICA Belanda Nayoan. Dia memberitahukan supaya datang ke istana pukul 8.00 WIB menghadiri konferensi pers Dr. Beel, Wakil Mahkota Agung yang sejak 3 November 1948 menggantikan kedudukan Letnan Gubernur Jenderal Dr. Van Mook.

Waktu itu saya pemimpin redaksi harian Pedoman. Sebagaimana sudah dapat diduga, dalam konferensi pers itu Beel mengumumkan kepada para wartawan luar dan dalam negeri bahwa mulai pukul 6.45 WIB pagi itu “aksi polisionil kedua telah dimulai”.

Pada saat itu para anggota Komisi Tiga Negara yang dibentuk oleh Dewan Keamanan PBB dan berada di Kaliurang sebagai perantara dalam perundangan Belanda-Indonesia menyaksikan bagaimana pasukan paying Belanda diterjunkan di atas lapangan terbang Maguwo. Operasi militer Belanda yang dinamakan Operasi Kraai yang Tujuannya ialah liquidatie van de Javaanse Republiek (Pemusnahan Republik Jawa). Jumlah pasukan Belanda saat itu sekitar 150.000 orang terdiri dari tentara KNIL dan KL. Perintah Jenderal Spoor ialah agar dalam waktu 24 jam Yogya sudah ditaklukkan, para pemimpin Republik ditangkap, dan tentara Republik dihancurkan.

Sore tanggal 20 Desember berakhirlah pertempuran di Yogya. Dalam kata-kata Belanda, “Direbut dengan tiada disangka-sangka, perlawanan republik ambruk, Soekarno dan hampir semua pemimpin Republik dalam tangan kita, tampaknya suatu keberhasilan lengkap, een volledig success”.

Dalam buku Beel, van Vazal Tot Onderkoning diceritakan bahwa peninjauan militer Australia yang menyaksikan penaklukan ibu kota republik adalah penuh kekaguman terhadap this most wonderful military operation (operasi militer ini yang paling indah). menaklukkan Yogya tanpa ada satu menit pun listrik kota dipadamkan.

Kenyataan di lapangan tntu tidak selalu begitu. Pihak militer Belanda mengakui bahwa W-brigade yaitu bagian dari B-divisie yang mendapat perintah bergerak dari Banjarnegara ke Wonosobo di tengah jalan dihadang oleh pasukan divisi Siliwangi yang sedang dalam perjalanan kembali ke Jawa Barat menempati daerah-daerah yang tahun sebelumnya harus ditinggalkannya dalam gerakan hijrah ke Yogyakarta pasca persetujuan Renville. W-brigade terhenti akibat pertempuran sengit dengan unit-unit Siliwangi.

Tanggal 22 Desember 1948, Dewan Keamanan PBB mengadakan sidang serta-merta yang mengambil putusan (resolusi) tanggal 24, memerintahkan agar segera dilaksanakan gencatan senjata. Belanda pada bulan Januari 1949 telah menguasai seluruh Jawa dan sebagian Sumatra. Artinya, kota-kota besar dan jalan Perhubungan antara kota-kota itu.

Jenderal Spoor, sejak dilancarkannya aksi militer kedua, bertolak dari pendapat bahwa pasifikasi (pengamanan) daerah-daerah baru di Jawa dan Sumatra dapat dirampungkan dalam waktu tiga hingga enam bulan dan Binnenlands Bestuur (BB, pangreh praja) akan bisa berfungsi kembali. Oleh karena itu, pasukan Belanda harus melaksanakan patrol mencari lawan dan membinasakannya, sedangkan polisi dan para penjaga onderneming (kebun) mengurus penjagaan bersifat statis.

Pendapat Spoor itu sia-sia belaka. Pasukan Belanda tidak berhasil mengadakan konfrontasi langsung dengan TNI. Atas perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman, TNI melakukan perang gerilya. Ternyata TNI tidak dikalahkan dan mengambilposisi sekitar daerah-daerah yang diduduki oleh Belanda. TNI menyerang di malam hari dan melakukan sabotase dengan ranjau darat dan bom-bom terhadap jalan-jalan penghubung dan jembatan-jembatan.

TNI memang telah dicerai-beraikan, tetapi kemudian mengundurkan diri ke hutan dan pegunungan dan masih lengkap memiliki senjata dan amunisi. Jadi, TNI tidak dikalahkan, kata Komandan B-divisie Mayor Jenderal Meijer, yang menaklukkan Yogya tanggal 19 Desember 1948.

Dalam buku Logistiek Ender de Tropenzon (2003) karangan B.C. Cats dan H.N.J. van den Berg terdapat sebuah crita bahwa sampai bulan September 1949 masih dilakukan aksi-aksi militer Belanda seperti pendaratan dari udara (luchtlanding) tanggal 10Maret 1949 di Gading, 30 km timur laut dari Yogya dimana dicoba menangkap Panglima Besar Jenderal Sudirman dan menghancurkan sebuah statiun radio Republikein. Karena tidak ada intel yang bagus, aksi tadi tidak menghasilkan apa-apa, kata militer Belanda.

Membaca crita tadi, saya teringat wawancara saya dengan Jenderal Sudirman tanggal8 juni 1949 di sebuah desa di Gunung Kendang. Ketika itu bersama Letkol Soeharto, komandan Wehrkreise Yogya, dan fotografer Ipphos Franc Sumarto Mandur, saya pergi menjemput Jenderal Sudriman untuk kembali ke Yogya bergabung dengan presiden Soekarno dan Wapres Hatta yang telah tiba dari Bangka tanggal6 juli. Dalam wawancara itu Sudirman menyatakan bersedia kembali ke Yogya. Ini berita bagus.

Sudirman menceritakan pengalamannya bagaimana pada suatu kali dia bersembunyi di bawah semak-semak belukar. Beberapa meter didepannya tampak sepatu lars tentara para Belanda yang mencari dia.

Waktu itu sedang hujan. Kalau dia terbatuk sedikitsaja dan didengar oleh serdadu Belanda, habislah dia. Pasti ketahuan tempatnya bersembunyi dan pasti ditembak oleh pasukan Khusus Belanda. Akan tetapi, Tuhan melindungi Sudirman. Dia selamat.

Waktu itu saya tidak menanyakan kepada Panglima Besar di mana tempat kejadian dia dikejar oleh pasukan para Belanda. Saya sudah gembiri mendengar keterangannya mau balik ke Yogya, sehingga Belanda tadi saya anggapsekunder saja. Akan tetapi, kini setelah membaca buku tadi, saya bertanya, mungkinkah tempat itu Gading? Sejarawan bisa menyelidikinya, tetapi nara sumbernya banyak yang sudah meninggal seperti Kapten Supardjo Rustam dan Kapten Tjokropranolo…………#OP140108B#

H. Rosihan Anwar, wartawan senior. (PR)

Comments
2 Responses to “Belanda Mau Tangkap Jenderal Sudirman”
  1. Heng's mengatakan:

    Kagum semangat revolusi

  2. cah magelang mengatakan:

    Karakter pantang menyerah TNI eks PETA lebih kuat dibanding TNI eks KNIL.. Selama agresi militer ke II banyak perwira TNI eks KNIL yg menyerah / tertangkap tanpa perlawanan seperti Komodor Surjadarma (Kastaf AU), letkol Daan Yahya (Panglima divisi Siliwangi), mayor Daeng Muhamad (komandan batalion dari divisi Siliwangi dan mayor A. Lembong (komandan batalion dari brigade XVI.. Berbeda dgn perwira TNI eks PETA seperti pangsar Soedirman yg dalam kondisi sakit tetap memimpin gerilya. Atau letkol Srudji komandan brigade I divisi I yg memilih bertempur sampai mati daripada menyerah ketika dikepung belanda saat longmarch ke Jember Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: