“Green Mining, Greenwash!”

Tambang dan daya rusaknya itu, jauh dari sifat berkelanjutan, apalagi Hijau.

 

Ahad (9/12-2007) lalu, bersamaan dengan Konferensi Perubahan iklim di Bali, perusahaan tambang skala besar bersama pemerintah, beramai-ramai menandatangani kesepakatan berjudul “Green Mining Declaration”. Media memberitakan. Deklarasi tersebut berisi kesepakatan perusahaan tambang untuk memperbaiki lingkungan yang rusak setelah tambang mereka usai.

 

Sebenarnya, tak ada yang baru ataupun patut dirayakan dari deklarasi tersebut. Bukankah perbaikan lingkungan pasca tambang, memang kewajiban perusahaan tambang? Mereka harus memulihkan kawasan tersebut setelah dikeruk dan di acak-acak.

 

Tapi, memang kewajiban ini tak banyak digubris, baik oleh pelaku Pertambangan maupun Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro. Lihat saja kawasan yang rusak akibat aliran limbah tailing PT. Freeport, dua tahun lalu saja sudah mencapai 22.000 ha, meliputi kawasan sungai hingga hutan bakau. Belum lagi kawasan lubang tambang dan sebaran tailing-nya ke kawasan muara.

 

Ada lagi 887 kolong atau lubang bekas tambang timah di Bangka Belitung yang dibiarkan begitu saja. Bappedalda Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyatakan, kerusakan hutan akibat kegiatan penambangan timah di seluruh wilayah Babel, mencapai 400.000 hektare atau 60% dari total luas hutan.

 

Hal serupa juga terjadi di banyak tempat seperti Laverton Gold di Sumatra Selatan, Newcrest di Maluku Utara, Rio Tinto di Kalimantan Timur. Aurora Gold/Straite Resources di Kalimantan Tengah, dan banyak lainnya.

 

Jangan lupa, kerusakan akibat limbah tambang tak hanya terjadi di darat. Ingat limbah tailing 300 juta ton lebih yang dibuang Newmont ke Teluk Buyat dan Teluk Senunu. Juga kerusakan Sungai Ajkwa di

Papua, yang berubah menjadi penampung tailing PT. Freeport.

 

Dengan deklarasi itu, pelaku Pertambangan dan pemerintah seolah menganggap kewajiban pascatambang tak pernah ada. Deklarasi ini juga menyempitkan arti pemulihan pascatambang, sebatas perbaikan lahan. Padahal, Bagaimana dengan dampak sosial ekonomi yang muncul akibat kehadiran tambang, seperti konflik horizontal berkepanjangan di sekitar tambang Rio Tinto di Kalimantan Timur, atau perekonomian yang ambruk di beberapa daerah di Belitung?

 

Tanggung jawab pascatambang, harus termasuk bagaimana memulihkan kondisi sosial ekonomi yang ambruk, setelah modal pergi dari kawasan tersebut, bersama rusaknya lahan bekas penggalian.

 

Jika tak mau dibilang manipulative, deklarasi ini sebetulnya salah alamat. Tak ada Pertambangan skala besar yang Hijau. Bahkan tambang adalah sumber alam tak terbarukan. Pertambangan memiliki daya rusak, membutuhkan lahan luas, rakus air, dan energi. Sebanyak 10% energi Dunia dikonsumsi oleh perusahaan tambang. Itu semua yang dikenal sebagai daya rusak tambang.

 

Untuk satu gram emas saja misalnya, setidaknya dibuang 2,1 ton limbah batuan dan lumpur tailing. Batu bara lain lagi. Untuk mengontrol debu dan perlindungan dari kebakaran dibutuhkan setidaknya 65 hingga 120 liter air. Tiap satu ton batu bara pada pada pertambangan tertutup dan tiga kali lipatnya pada pertambangan terbuka, masih ditambah 33 liter air untuk setiap ton pencucian batu bara.

 

Bayangkan, berapa air yang dihabiskan dan sebagian kembali ke alam sebagai limbah, jika setiap tahunnya Indonesia memproduksi 200 juta ton batu bara yang 80%nya dijual kepada pihak asing.

 

Jelas, tambang dan daya rusaknya itu, jauh dari sifat berkelanjutan, apalagi Hijau.

 

Mengklaim upaya tanggung jawab pemulihan pascatambang sebagai sesuatu yang Hijau adalah greenwash, atau membuat citra ramah lingkungan perusahaan tambang. Itu dilakukan untuk menutupi kenyataan kalau industri tambang, telah banyak melahirkan masalah di negeri ini.

 

Yang paling memprihatinkan adalah para menteri, pejabat publik yang turut menandatangani deklarasi. Mereka dengan sadar menjadi alat greenwash pelaku tambang. Mereka bagai menelanjangi diri, menunjukkan ketidak mampuannya mengurus kekayaan hutan, dan tambang di negeri kepulauan ini.

 

Deklarasi keluar tak lama setelah desakan pelaku Pertambangan kepada menteri kehutanan, agar diperbolehkan membabat hutan lindung dan digali bahan tambangnya, tanpa syarat apapun. Belakangan, sang menteri luluh dan berencana hanya akan mengutip dana Pendapatan Negara Bukan Pajak dari para pelaku tambang itu.

 

Bisa ditebak, apa niat di balik Deklarasi Green mining ini. Mereka ingin membuat publik tak khawatir dan tutup mulut, jika pertambangan terbuka dilakukan di hutan lindung.

 

Tentu, publik harus khawatir. Pada 2004, Greenomic Indonesia pernah menghitung kerugian yang akan dialami negara hanya dari 925.000 hutan lindung yang akan dibuka oleh 13 perusahaan tambang skala besar. Indonesia kehilangan nilai modal ekologi tidak kurang dari Rp 70 triliun per tahun. Secara bertahap, praktik tambang terbuka di hutan lindung akan menurunkan nilai pendapatan asli daerah (PAD) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

 

Yayasan Pelangi juga telah mengingatkan, ada sekitar 251 juta ton emisi karbon yang dilepas ke atmosfer akibat pembukaan hutan lindung ini. Angka yang tidak kecil ini akan menyumbang Pemanasan global.

 

Pembukaan hutan lindung menjadi Pertambangan, tak bisa di toleransi, apalagi di tengah ketakmampuan pemerintah mengurus laju perusakan hutan, yang mencapai 2 juta ha per tahun. Saat ini ada 158 perusahaan tambang yang memiliki konsesi pertambangan di kawasan lindung, meliputi luasan 11,4 juta hektare dan tersebar di 85 kabupaten dan 26 provinsi.

 

Ironis memang. Saat konferensi Perubahan iklim di Bali itu, Indonesia menyampaikan komitmennya untuk menjaga hutan, menurunkan laju deforestasi dan degradasi lahan, guna menekan emisi karbon ke atmosfer. Tapi, bersama pelaku Pertambangan, mereka mengamini pembabatan hutan lindung dan mengubahnya menjadi kawasan tambang……………#OP141207A#

 

Siti Maemunah, koordinator nasional Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), berkedudukan di Jakarta. (PR)

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: