“Made In” Bandung

Bandung, kata Director British Council Indonesia Mike Hardy, memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri kreatifnya. Apabila industri ini sudah tumbuh di Bandung sejak 10 tahun lalu. Sebagai kota terbesar Keempat dan berpenduduk 2,5 juta jiwa, Bandung mempunyai 400 outlet industri kreatif yang dikelola pemuda berusia 20-30 tahun.

 

Berhubung kreativitas dan inovasi lebih berharga dari sumber ekonomi lainnya, diperlukan paradigma baru dalam kebijakan dan manajemen untuk mengelola ekonomi kreatif ini. Untuk itu diperlukan kepemimpinan sebagai masalah utamanya. Diperlukan kreativitas dan upaya lebih dari para pemimpin. Dibutuhkan peran pemimpin-pemimpin kreatif, baik di pemerintahan, di komunitas, maupun dari para pelaku sendiri. Dibantu sinergi perguruan tinggi, akademisi, serta media lokal ekonomi kreatif Kota Bandung ini diharapkan memberi Kontribusi optimal.

 

Halangan terbesar yang dirasakan parapelaku industri kreatif selama ini sering berasal dari pemerintah kota. Misalnya dari pembuatan izin yang dirasakan berbelit dan tidak transparan, koordinasi antar lembaga yang belum padu, sulitnya berkomunikasi dengan pengelola kota, dan masalah pajak. Pemerintah kota tampaknya belum memiliki strategi pengembangan industri kreatif sebagai salah satu sumber pendapatan daerahnya.

 

Apa yang bisa dilakukan oleh para pemimpin pemerintahan kreatif untuk memajukan industri ini? Banyak. Menurut Togar Simatupang dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB masalah kebijakan pengembangan prasarana dan sarana ekonomi kreatif berbeda dari era industri yang dapat dilakukan dalam rentang waktu singkat. Untuk membangun industri kreatif, mula-mula dengan secara sistematis membangun sarana dan prasarana. Sebutlah akses terhadap pendidikan, teknologi, perpustakaan, perizinan, riset, pelatihan, modal, informasi standar teknis, pajak, dan regulasi persaingan.

 

Pemimpin juga dapat melakukan mediasi kreatif melalui catalog, program, dan penyediaan fasilitas berupa lahan dan Gedung. Pajak dan perizinan harus disederhanakan dan transparan. Perlindungan hak cipta perlu dicarikan Solusinya agar mampu memberikan insentif bagi para pengarang dan penemu untuk menciptakan karya intelektual dan mendistribusikannya kepada publik.

 

Bentuk perlindungan selain ditujukan kepada individu, juga untuk domain publik dan kolektif. Para pemimpin pemerintahan kreatif harus aktif melakukan inventarisasi dan perlindungan warisan budaya serta kearifan lokal Bandung.

 

Sementara itu, pemimpin pemerintah daerah perlu mengakui profesi kreatif dalam tatanan struktur ketenagakerjaan. Masyarakat kreatif diupayakan tidak terlena pada nostalgia warisan budaya, tetapi turut melestarikan dan menjadikannya sumber inspirasi untuk menciptakan karya bernilai ekonomi. Pemimpin perlu melakukan sosialisasi yang lebih luas untuk mendidik konsumen agar lebih menghargai karya kreatif, termasuk menumbuhkan sahabat-sahabat kreatif (dermawan dan kolektor), dan membantu membuka akses ke pasar modal dan global.

 

Jadi, banyak yang bisa dilakukan para pemimpin kreatif. Yang dibutuhkan tinggal komitmen dan konsistensi. Para pemimpin pemerintahan di lembaga terkait harus bersinergi secara kreatif dalam sebuah tujuan bersama untuk mewujudkan itu semua.

 

Bagaimana dengan antusiasme masyarakat? Ridwan kamil berpendapat, perkembangan industri kreatif di bandung telah menjadi sebuah daya tarik. Oleh karena itu, Bandung kemudian diberi kepercayaan untuk mempopulerkan semangat kota kreatif ke tataran global lewat projek Bandung creative City (BCC). Yudhi S. dari British Council menegaskan, bandung bahkan telah mengembangkan ekonomi kreatif dengan semangat komunitas tanpa mengandalkan donasi dari pemerintah atau lembaga lainnya.

 

Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Fiki Satari mengatakan, konsep ekonomi kreatif merupakan jawaban untuk Indonesia, khususnya Bandung, untuk bersaing dengan negara lain dalam era global. Bandung memiliki potensi untuk mengembangkan hal itu. Iklim untuk bergerak secara kreatif sudah berkembang sejak dahulu di berbagai bidang mulai dari fashion, music, hingga desain arsitektur. Didukung cuaca yang cukup sejuk, ide-ide kreatif mudah keluar.

 

Ketua kadin Kota bandung, Deden Hidayat, menyatakan siap mendukung industri kreatif. Setahun terakhir Kadin telah berperan dalam peningkatan kualitas produksi dan sumber daya pelaku usaha hingga pengembangan pasar ke luar negeri. Kadin saat ini mengembangakan pengusaha kecil yang bergerak di ekonomi kreatif melalui Badan Promosi dan Pengelolaan Keterkaitan Usaha (BPPKU). Kadin juga sudah membuka pasar ekspor melalui program kerja sama dengan kota lain yang berada di dekat negara lain, seperti Batam dan Balikpapan.

 

Komunitas kreatif lainnya yaitu Common Room sudah bersikap diri membantu berjalannya projek kampanye, pemetaan, dan eksplorasi potensi dan pengembangan jaringan di industri kreatif.

 

Direktur Common Room, Gustaf Iskandar, telah mengembangkan sebuah tempat di mana orang dari berbagai kalangan dapat berkumpul untuk berkreasi secara kreatif. Para seniman dapat menunjukkan karyanya. Ilmuwan dapat mempromosikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang dikembangkannya.

 

Common Room telah melakukan eksplorasi di riset perkembangan industri kreatif secara global, khususnya bandung dan kota besar lainnya selama 10 tahun terakhir. Lewat peran-peran pemimpin komunitas kreatifnya kota Bandung berhasil menghadirkan sebuah generasi kreatif baru.

 

Sekarang, bagaimana dengan pelakunya? Banyak anak muda di kota besar mengenal grup band, seperti Mocca, Pure Saturday dan The Sigit. Mereka adalah grup band asal Bandung yang memilih berkarya serta memasarkan albumnya melalui jalur independen (indie). Band yang memilih tidak berada di bawah naungan perusahaan rekaman besar ini ternyata mampu bersaing dengan Ratu dipasar music Indonesia.

 

Kreativitas indie berkembang menjadi industri yang mampu memberi Kontribusi bagi perekonomian kota. Bukan hanya music, tetapi juga bidang lainnya. Ridwan Kamil, pendiri PT Urbane Indonesia, berhasil mengembangkan desain urban, arsitektur, arsitektur landskap, perencanaan regional dan kawasan, karya-karya kreatifnya telah menembus pasar internasional (Suriah, Cina, Timur Tengah).

 

Menurut Fikki Satari (Airplane System) produk fashion Bandung telah terdistribusi ke seluruh Indonesia dan mancanegara lewat desain kreatif. Fashion yang dikreasi unik bahkan menjadi tren. Kreativitas tidak hanya didesain, tapi juga dipasarkan. Mereka menciptakan took berjalan (bus mobile) yang di desain secara kreatif. Took berjalan ini mendatangi pelanggan di tempat-tempat strategis di Bandung.

 

Pemasaran juga disinergikan dengan grup musik indie yang digemari generasi muda. Melalui sinergi itu pembeli dikenalkan dengan budaya indie agar dapat menyerap semangat positif dari budaya kreatif ini.

 

Masih banyak yang lainnya dan Bandung sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih besar dari itu. Tetapi, masih banyak kelemahan yang dimiliki oleh individu serta pewirausaha kreatif ini dalam mengembangkan produk dan jasanya untuk menembus pasar global.

 

Pengembangan jejaraing lokal serta internasional masih sulit dilakukan. Mereka juga belum tahu cara mengelola branding produk. Akses ke permodalan plus regulasi dan berbagai hambatan lainnya dan pemerintah. Tarlen Handayani di Pikiran Rakyat (17/09/07) menulis bahwa bisnis clothing di Bandung Terlalu intuitif, tidak memiliki program pengembangan yang jelas. Bisnis clothing yang dapat bertahan hidup adalah mereka yang dapat membangun style sendiri.

 

Eksplorasi lebih banyak perlu dilakukan oleh para pemimpin perwirausaha kreatif. Public Relations manager Ouval Research Irfan Bijaksana mengatakan, kemajuan industri fashion kreatif tidak terlepas dari dukungan komunitas di dalamnya.

 

Fita Maulani di Bisnis Indonesia (15/08/07) menulis bahwa para pemimpin kreatif membangun usahanya lewat perkembangan komunitas. Grup band indie pada saat tampil disponsori pakaian dari clothing dan dipromosikan lewat majalah komunitas. Semua terangkat melalui paket ekonomi itu. Semua adalah hasil dari pemasaran komunitas yang dilakukan kawula muda Bandung. Semuanya made in Bandung.

 

Perlu ditumbuhkan banyak pemimpin kreatif di Kota Bandung. Mereka harus bersinergi melalui sebuah common purpose untuk mengoptimalkan industri kreatif di Bandung agar dapat bermain dalam kancah global. Media institusi pendidikan, dan akademi jelas dibutuhkan dukungannya.

 

Kontribusi akademisi menjadi penting untuk melakukan pemetaan yang lebih cermat mengenai apa dan Siapa melakukan apa.

 

Pikiran Rakyat (30/10/07) menulis, Bandung telah ditunjuk sebagai pilot project kota kreatif se Asia Timur dan Tenggara yang akan mendapat bantuan dari Inggris sebesar 6 juta poundsterling. Bantuan diberikan berupa kerja sama riset, kolaborasi program pertukaran, dan pengiriman siswa ke Inggris. Diperlukan inisiatif dari pihak institusi pendidikan dan akademisi Kota Bandung untuk memanfaatkannya dengan baik. Adalah sangat menarik untuk melihat peran Bandung sebagai kota kreatif dalam percaturan ekonomi kreatif dunia………… …..#OP131207A#

 

Donald Crestofel Lantu, dosen SBM ITB Tim Industri Kreatif IDP , Depdag. (PR)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: