Tidak produktif

Fenomena Indonesia itu lebih konsumtif daripada produktif. Sikap konsumtif itu tampak dimana-mana. Gejala korupsi jelas menunjukkan sikap konsumtif tersebut. Orang berebut jabatan sosial demi bayangkan akan memperoleh kedudukan yang memungkinkan mengalirnya uang ke rekening banknya.

 

Jabatan bukan dilihat dari sisi produktifnya, melainkan dari sisi konsumtifnya. Jabatan produktif itu menghasilkan banyak sesuatu. Produktif berarti kreatif, menciptakan yang tidak ada menjadi ada, Sedangkan sikap konsumtif meniadakan yang sudah ada.

 

Sikap produktif itu memberi dan sikap konsumtif itu mengambil. Manusia Indonesia lebih suka menerima dan kalau perlu memaksa atau memanipulasi yang sudah ada itu menjadi miliknya. Sikap produktif justru memelihara yang sudah ada dan menambah atau memperbanyak yang sudah ada itu.

 

Jabatan-jabatan strategis di masyarakat banyak diincar orang-orang konsumtif ini. Dalam benaknya bukan tugas berat produktif yang akan dilakukannya, namun apa nanti yang dapat saya manfaatkan dari jabatan saya ini. Semua jabatan dilihat dari segi konsumtif semacam itu.

 

Penjarahan hutan adalah crita konsumtif yang sudah populer berpuluh tahun belakang ini. Mereka hanya peduli menebangnya dan bukan menanamnya kembali dalam jumlah yang lebih banyak. Penebangan dilakukan sebelum produksi tanaman baru tumbuh, bahkan tidak melakukan penanaman kembali. Penjarah adalah merampas yang bukan miliknya. Hutan ini milik negara dan bangsa, namun seenaknya digasak seolah itu hasil kerja keras produktifnya.

 

Tindak tidak produktif semacam itu juga terlihat pada sektor-sektor produksi itu sendiri. Pertambangan, komunikasi, pajak, kelautan, kehutanan, yang memang jelas menghasilkan sesuatu buat negara, ternyata disikapi secara konsumtif dengan menganggap semua produksi itu miliknya secara kolektif.

 

Mereka mengatur sendiri pembagian keuntungan produksi yang dipercayakan kepada lembaganya. Korupsi jemaah semacam ini sudah lama terjadi sehingga tidak mengherankan apabila mereka sering mengeluh rugi terus-menerus. Bagaimana bisa merugi, padahal produksi berlangsung terus.

 

Sikap konsumtif telah merajalela hampir di semua sektor. Televisi-televisi kita mendidik masyarakat untuk menjunjung tinggi etika konsumtif. Main tebak-tebakan secara gampangan dengan iming-iming jutaan atau ratusan juta rupiah.

 

Sinetron-sinetron juga menggambarkan hidup konsumtif, yaitu hidup ini isinya hanya percintaan dan bekerja. Tokoh tampan ke sana kemari mengejar cewek-cewek cantik dengan mobil mewah, berkeliaran di rumah-rumah mewah, dengan alas an dia bos sebuah perusahaan yang tak jelas, jalan cerita cinta tak ada hubungannya dengan produksinya. Seolah kisah cinta itu sama saja untuk semua orang dari semua golongan dan semua profesi.

 

Hidup konsumtif juga dipamerkan lewat tayangan selebriti dengan persoalan mereka yang remeh-temeh seolah-olah peristiwa bersejarah manusia Indonesia. Mereka bagai dewa-dewi yang turun dari khayangan seolah-olah dunia ini surge belaka. Hidup mewah itu seolah realitas dunia Indonesia, hanya dengan bekal tampang dan bakat pas-pasan. Hidup penuh kepalsuan di muka panggung maupun di belakang panggung itu sikap konsumtif. Menjadi aktris itu soal keberuntungan, koneksi, modal kecakepan, tanpa usaha produktif-kreatif atas profesinya.

 

Bahkan, kaum intelektual Indonesia bersikap konsumtif. Mereka ini bangga bisa menghafal luar kepala semua produksi pemikiran asing yang canggih-canggih. Otak ini bukan untuk berfikir, tetapi untuk menghafalkan pikiran-pikiran tokoh-tokoh intelektual dunia. Seperti kaum selebriti  televise, mereka juga suka pamer akan ketepatannya meniru hal-hal asing yang tinggal di konsumsi. Makin mirip makin baik.

 

Pemikiran produktif adalah menghasilkan pemikiran otentik dirinya dan bukan mencocok-cocokan pikirannya dengan pikiran-pikiran mancanegara. Kalau anda menyusun skripsi, tesis, atau disertasi, nilai tertinggi terletak pada daftar referensi bacaannya yang bejibun, terutama penerbitan-penerbitan mutakhir teori mondial. Semakin sedikit kutipan dan daftar bacaan semakin jelek nilainya. Pemikiran otentik kurang dihargai di negara konsumtif ini.

 

Produktif berarti menghasilkan sesuatu, melipatgandakan sesuatu. Produktif itu memperkaya, konsumtif itu mempermiskin. Karena pikiran produktif tidak pernah bertengger di kepala manusia Indonesia, negara dan bangsa ini semakin miskin saja. Semakin banyak utangnya. Utang negara bukan untuk kepentingan produktif, melainkan dikonsumsi para pelakunya demi Keperluan konsumtif juga. Dihambur-hamburkan lewat pamer kekayaan, pelancongan, gengsi, seolah-olah hasil sukses kerja kreatif-produksinya.

 

Bangsa ini melahirkan pemimpin-pemimpin malas karena kerja produktif adalah kerja keras. Seorang teman yang kerja di Australia, ketika pulang berlibur di Indonesia, terheran-heran menyaksikan teman sekolahnya dulu bisa bermalas-malasan di sebuah lembaga negara. Akan tetapi, teman ini tidak memperhatikan mereka yang bekerja di usaha swasta. Lembaga-lembaga usaha swasta tak mungkin tetap hidup tanpa kerja produktif. Mereka pekerja-pekerja keras dengan disiplin kerja yang keras pula. Arti produktif yang sesungguhnya hanya dapat ditemui dalam bidang-bidang swasta ini.

 

Segala yang berbau “negeri” di negara ini telah terkontaminasi penyakit konsumtif. Rebutan jabatan tinggi dipertaruhkan dengan mengerahkan demo-demo dan kalau perlu dengan perusakan-perusakan, hanya didorong oleh bayangkan bahwa jabatan ini akan memungkinkan dirinya untuk menjadi manusia konsumtif besar.

 

Apakah negara ini akan menjadi produktif apabila semua yang berlabel “negeri” itu diswastakan? Apakah lebih baik kita “menyewa” seorang presiden asing dengan kontrak saling bagi hasil?

 

Di zaman kolonial, negeri ini amat produktif meskipun hasil produksinya dibawa ke negeri penjajah. Apakah bakat manusia Indonesia memang konsumtif dan hanya produktif kalau dijajah bangsa lain…………#OP101207A#

 

Jakob Sumardjo, budayawan. (PR)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: