Patahan Lembang Tetap Jadi Ancaman

gbr-3

Bandung, PR 30 April 2015 Kamis Wage    ( 11 Rajab 1436 H )

Bencana gempa bumi besar yang melanda Nepal seharusnya menjadi pengingat warga Bandung dan sekitarnya tentang ancaman gempa bumi di sekitar patahan Lembang. Padatnya pemukiman di sekitar Bandung utara dikhawatirkan akan memperparah keadaan saat gempa bumi terjadi.

Pergeseran patahan Lembang tergolong aktif yang ditandai dengan adanya gempa dalam skala kecil. Penampakan tektonik morfologi pada dan di sekitar patahan, mengindikasikan patahan ini terus aktif sampai sekarang.

Demikian dikatakan Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Gerakan Tanah pada Badan Geologi, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, Gede Suantika. Rabu (29/4/2015). Menurut dia, patahan Lembang membentang dari Timur ke barat di kawasan sebelah utara Bandung sepanjang 20 kilometer. Ciri patahan lembang ini ditandai adanya kelurusan untaian bukit-bukit, mulai dari daerah timur tempat wisata Maribaya di utara di utara daerah Ujung Berung hingga ke daerah Cisarua, Cimahi bagian Barat. Jika terjadi pergeseran patahan ini mampu menghasilkan gempa berkekuatan 6 hingga 7 skala Richter. Daerah terdekat dari patahan Lembang ini mencakup jalur Maribaya, Gunungbatu, Lembang, hingga Jambudipa.

Dari hasil penelitian terakhir di wilayah timur Ujung Berung pernah terjadi gempa tapi dalam skala kecil. Kemudian terjadi juga gempa di daerah Jambudipa. Ini membuktikan bahwa garis patahan Lembang ini aktif,”ungkap Gede. Ia ditemui di ruang kerjanya di Kompleks Museum Geologi, Kota Bandung.

Gede mengakui, jalur patahan menjadi ancaman gempa daratan. Di Jawa Barat, terdapat beberapa jalur patahan seperti dari Pelabuhanratu – Sukabumi – Cianjur. Di Utara, ada di wilayah Padalarang hingga ke bagian Utara Gunung Tangkubanparahu dan perbatasan Subang. Kemudian, di sebelah timur yakni dari daerah Tomo hingga Majalengka yang diteruskan ke kuningan – Bumiayu hingga Cilacap Jawa Tengah.

Gede menjelaskan, patahan Lembang merupakan sisa-sisa kaldera atau kawah gunung api yang sangat besar dari gunung berapi Purbasunda. Jika terjadi pergeseran, kata dia, maka akan terjadi kerusakan geologi seperti longsor, tanah retak, bahkan pelulukan. Pelulukan terjadi jika ada wilayah tertentu yang dilalui jalur patahan mengandung air tanah dangkal kemudian terdorong ke atas seolah-olah tanah dan unsur-unsur halus tanah ikut terpompa ke atas. Jika material tanah tersebut sudah naik, maka bangunan di atasnya akan amblas.

Mengenai kemungkinan terjadinya gempa seperti di Nepal, Gede mengatakan, kerusakan geologis di daerah patahan Lembang tak akan separah kejadian di Nepal. Namun, karena wilayah patahan Lembang kini banyak dihuni penduduk, besar kemungkinan berpotensi menimbulkan banyak korban jiwa.

Ada dua cara bentuk mitigasi bencana yang dikatakan Gede. Pertama, secara struktural yakni membangun bangunan tahan gempa. Kedua, mitigasi nonstruktural yaitu dengan cara memberikan pelatihan masyarakat mengenai penanganan kebencanaan.

Imbauan juga datang dari anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung, Titi Bachtiar. Menurut dia, warga di sekitar patahan Lembang harus senantiasa waspada terhadap ancaman bencana alam ini.

“Patahan ini sudah ada sedari dulu sebelum manusia ada. Sekarang di sekitar patahan Lembang ini banyak dihuni penduduk, maka manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan alam,” katanya ( Ecep Sukirman ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Arkeologi

  • Trader

  • Energi Alternatif

  • Bencana Global 2050

  • Flying

  • Kereta Api

  • Konstruksi – Arsitektur

%d blogger menyukai ini: